Pawai Kader dan Simpatisan Meriahkan Milad 111 Muhammadiyah – TUNASMALANG.ID

sorotmalang.com – Pada  Ahad (19/11), Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang mengadakan Festival Makotamu dalam rangka perayaan milad Muhammadiyah ke-111 tahun di kawasan Balai Kota Malang.

Bertema Ikhtiar Menyelamatkan Semesta Gerak Berkemajuan Hadirkan Keunggulan  Di Kota Malang, acara dimulai sejak jam 6 pagi dengan kegiatan senam bersama yang diikuti para kader maupun simpatisan Muhammadiyah.

Menjelang jam 9 pagi, Festival Makotamu secara resmi dibuka yang diawali dengan lagu Indonesia Raya diteruskan Mars Muhammadiyah. Selanjutnya, ketua pelaksana kemudian Ketua PDM Kota Malang, Abdul Haris dilanjutkan dengan sambutan dari pimpinan wilayah Jawa Timur, Nazaruddin Malik.

Pj Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat di hadapan sejumlah tamu undangan menyampaikan selamat ucapan tahun kepada Muhammadiyah. Dalam sambutannya, Wahyudi mengungkapkan bahwa sejak berdirinya Muhammadiyah telah menjadi tonggak pergerakan dalam berbagai bidang kehidupan. 

“Sinergi Muhammadiyah dengan pemkot Malang harus ditingkatkan terutama menjelang tahun pemilu,” ucapnya.

Setelah sambutan dari pejabat sementara Kota Malang, acara dilanjutkan dengan penyerahan pohon secara simbolis kepada para undangan terkait. Pohon ini direncanakan ditanam di Supit Urang. Sesudah  itu diteruskan dengan pawai milad. Penampilan pertama diawali marching band dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) diikuti para peserta pawai yang membawa bendera merah putih dan Muhammadiyah sebanyak 111, sesuai dengan milad Muhammadiyah.

Baca Juga: Perayaan Milad Muhammadiyah, IMM Malang Raya Konsisten Mendukung Kemerdekaan Palestina

Pawai milad ini diikuti Pimpinan Cabang Muhammadiyah se-Kota Malang yaitu Klojen, Lowokwaru, Sukun, Blimbing, dan Kedungkandang. Peserta pawai juga berasal dari sejumlah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) mulai dari instansi pendidikan hingga rumah sakit atau klinik kesehatan Muhammadiyah yang ada di Kota Malang.

Setelah penampilan pertama dari UMM, dilanjutkan dengan pawai dari sekolah TK ABA se-Kota Malang yang diikuti sekitar 500 peserta. Selanjutnya ada penampilan marching band PCM Klojen. Pawai juga dimeriahkan teatrikal SMP dan SMA Muhammadiyah 1  Malang dan sejumlah perwakilan dari cabang Klojen seperti  pengurus cabang Aisyiyah dan panti asuhan. 

Dalam pawai tersebut,  para peserta begitu kreatif dengan menampilkan sejumlah tema  seperti tema kesehatan oleh para murid SMK Muhammadiyah dengan membawa sejumlah poster tentang ajakan hidup sehat. Begitu pula dengan AUM terkait seperti Rumah Sakit Islam Aisyiyah (RSIA), rumah sakit ibu dan anak serta klinik kesehatan Blimbing.

Sementara itu, tema budaya juga tak luput mencuri perhatian para penonton yang memadati bagian depan gedung DPRD. Beberapa delegasi pawai menampilkan kekayaan budaya tradisional Indonesia di antaranya  SMK Muhammadiyah 7 dan SD Muhammadiyah 1 Kota Malang. Keduanya menyuguhkan tarian tradisional nusantara di hadapan para tamu undangan yang berada di tribun. 

Tema ekonomi juga ditampilkan delegasi pawai milad Muhammadiyah dari Blimbing dengan masyarakat ekonomi kreatif-nya. Salah satu andalannya adalah  keberhasilan untuk memproduksi air mineral yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Muhammadiyah secara khusus dan umat Islam pada umumnya.

Konflik yang terjadi di Palestina juga menjadi pilihan tema yang dipilih kontingen dari Sukun yaitu SD Muhammadiyah 5 dan Pondok Pesantren Al Munawaroh, Kedungkandang.  Begitu pula, dengan perkumpulan Tapak Suci yang juga turut memeriahkan acara pawai dengan suguhan atraksi teatrikal pertarungan. 

Pawai milad Muhammadiyah  yang meriah mengundang antusiasme baik itu dari penonton maupun peserta. Seperti yang ditunjukkan Sulistyotini, guru TK ABA 35 Kota Malang. Bersama para guru TK yang tergabung dalam IGABA (Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal), mereka juga tampil untuk memeriahkan pawai milad Muhammadiyah ke-111 tahun ini. 

“Saya mewakili dari TK ABA 35 dan ikut delegasi IGABA, dimana IGABA mewajibkan 1 sekolah mewakilkan 3 delegasi( guru) dan 5 anak plus orangtua untuk ikut karnaval dg tema kostum bebas sesuai pilihan sekolah masing. Sedangkan untuk latihan 1 minggu 2 kali durasi 1 jam dan waktunya 3 minggu, jadi 6 kali pertemuan,” ucap  perempuan yang berdomisili di Bumiayu  Kedungkandang ini.

Sementara itu, hal serupa juga ditunjukkan Suprapti, kader Aisyiyah dari Kedungkandang juga. Ia mengapresiasi penampilan para peserta pawai terutama yang menampilkan tema kesehatan dari sekolah-sekolah Muhammadiyah dan instansi kesehatan terkait yang memberikan edukasi kepada penonton. Hanya saja, ia memiliki catatan khusus beberapa peserta yang menurutnya tidak mencerminkan nilai-nilai Muhammadiyah yang berpakaian syari. Untuk itu, kedepannya, Prapti, sapaan akrabnya, berharap seandainya diadakan pawai kembali, tema yang ditampilkan bisa sesuai dengan warga Muhammadiyah.

Rangkaian acara milad Muhammadiyah ini tak hanya menampilkan pawai saja, tetapi juga pentas seni dan budaya, bazar UMKM se-jatim, dan kegiatan sosial donor darah yang bekerja sama dengan PMI Kota Malang. (DS).

Post Views: 11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *