Kualitas Kopi Unggul, Tapi Lemah Ekspor

sorotmalang.com, MALANG- Produksi kopi petani di Kabupaten Malang unggul dari segi kualitas hingga diakui dunia. Namun, produksi kopi tersebut belum bisa memenuhi tantangan kebutuhan ekspor. Hal ini disebabkan banyak faktor, salah satunya kuantitas produk dan proses olah yang belum sesuai standar.

Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto mengatakan, jika dilihat dari kebutuhan perusahaan eksportir, Kabupaten Malang memiliki peluang untuk mengekspor hingga sekitar 43 ribu ton kopi pertahun. Namun, hal itu belum mampu dicapai karena kemampuan produksi yang dinilai sesuai masih berkisar 13 ribu ton pertahun.

“Kebutuhan ekspor mencapai 43 ribu ton. Artinya ada ada kekurangan 30 ribu ton untuk memenuhi jumlah angka ekspor. Ini butuh pendampingan ke petani,” ujar Didik, belum lama ini. Dalam hal pendampingan, dia berharap bisa bekerjasama dengan perusahaan yang membutuhkan.

– Advertisement –

Salah satu yang merupakan tempat produksi terbesar, kata Didik, yakni Dampit dan Turen. “Ada kiat khusus yang harus kita sampaikan pada petani untuk bisa mencapai standar ekspor. Kalau mengenai bagaimana proses panen yang baik, mereka sudah paham. Yang perlu diingatkan setelah panen kemudian penjemuran sampai roasting,” tuturnya.

Sejauh ini, mantan Ketua DPRD Kabupaten Malang itu beranggapan bahwa kopi hasil produksi dari wilayah seperti Dampit mulai maksimal dirasakan pasar lokal. Salah satunya telah mampu memenuhi kebutuhan kafe di Malang Raya. Didik mendorong agar ada peningkatan nilai tambah agar dapat dipasarkan lebih luas.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Avicenna Medicica Saniputera menyampaikan, pihaknya telah melakukan mitigasi peluang untuk menaikkan potensi kopi ke pasar ekspor melalui industri eksportir yang sudah ada. Tercatat, sudah ada dua perusahaan eksportir yang menjadi mitra Pemkab Malang.

“Dari kedua perusahaan mitra itu ada peluang sampai 43 ribu ton pertahun, tapi kemampuan kita baru 13 ribu. Perlu ada peningkatan kualitas,” ucap Avicenna, saat dikonfirmasi terpisah. Pihaknya telah menjajaki kerja sama perusahaan eksportir lain untuk bisa ikut melakukan pendampingan petani. Termasuk di antaranya petani milenial.

Ia menyebut setiap tahun sudah diupayakan untuk diadakan pelatihan kepada komunitas perkebunan dan petani muda. Tujuannya untuk memotivasi peningkatan hasil produksi dengan mengejar standar tinggi. “Setiap tahun kita latih enam ribu lebih orang. Kami menanti mitra yang berkolaborasi juga. Mereka tahu dan memberikan akses pasar,” imbuhnya. (tyo/mar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *