Bedah Buku Tirta Carita : Mengungkap Cerita di Balik Sumber Mata Air di Malang

SorotMalang : Sungai telah lama menjadi pusat peradaban manusia. Tak hanya peradaban dunia seperti Mesir Kuno dengan Sungai Nil, Mesopotamia dengan Sungai Eufrat dan Tigris serta peradapan China Kuno di Sungai Kuning, tetapi juga peradapan di Indonesia. Beberapa kerajaan zaman dahulu di negeri ini juga didirikan dekat sungai. Salah satunya  Kerajaan Kanjuruhan yang berada di antara Sungai Brantas dan Sungai Metro.

Tidak mengherankan, sisa-sisa peninggalan kuno juga bisa ditemui di sungai. Selain berupa artefak, sisa peninggalan kerajaan yang pernah ada di Malang berupa sumber mata air yang dahulu kala juga digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari serta menjadi tempat sakral bagi orang zaman dahulu.

Di Malang  dan Batu sendiri banyak terdapat sumber mata air yang tersebar di berbagai tempat. Sumber mata air ini menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Malang dan sekitarnya. Hal ini pula yang menarik perhatian Nur Elifianita beserta Latifah dan Devan Firmansyah untuk menggarap buku Tirta Carita: Sendang Malang di Cekung Gunung.

Alasan lain yang mendasari pembuatan buku ini juga bahwa Malang Raya sebagai daerah lumbung mata air. Namun, banyak  sumber mata air yang mati akibat komersialisasi serta industrialisasi di Malang sehingga menimbulkan keprihatinan bagi tim penulis.

Sumber mata air sebagai bagian sejarah daerah Malang dan sekitarnya mempunyai banyak cerita yang coba diungkap dalam bedah buku Tirta Carita: Sendang Malang di Cekung Gunung Kamis (31/8) yang diselenggarakan di aula Museum Zoologi Frater Vianney di Jalan Mahameru. Acara ini juga sebagai tindak lanjut kegiatan pemutaran film dokumenter Tirta Carita yang telah dilaksanakan Juni lalu.

Dalam acara yang diadakan pihak  museum beserta tim penulis tersebut menghadirkan tiga narasumber, Maulfi Syaiful Rizal (peneliti), Nur Elifianita (penulis), dan Denise Resiamini yang mewakili Museum Zoologi. Acara bedah buku ini sendiri sebagai tindak lanjut dari acara pemutaran film dokumenter Tirta Carita yang diadakan Juni lalu.

Sebagai pembicara pertama, Maulfi Syaiful Rizal menyoroti tentang tradisi folklor tidak dapat dipisahkan dengan sumber mata air serta tradisi masyarakat setempat. Folklor menjadi bagian penting dari masyarakat tertentu yang diturunkan secara turun-menurun. Sebagai contoh folklor yang berkaitan  dengan sumber mata air yang ada di sebuah kawasan di mana masyarakat setempat mengadakan syukuran kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Berbicara tentang sumber mata air, folklor yang berkembang juga sangat berkaitan dengan konservasi alam yang dapat digunakan untuk menjaga keanekaragaman hayati.  Ia juga menyebut sebelum adanya peraturan yang dibuat pihak berwenang, keberadaan folklor juga berfungsi untuk menjaga kelestarian sumber mata air. Ia lalu memberi contoh larangan mengambil ikan yang ada di sumber mata air.

“Folklor, alam, dan kelompok masyarakat ini tidak dapat dipisahkan. Ketika ketiga komponen ini saling terkait maka kearifan lokal tetap terjaga,” ucap Maulfi Syaiful Rizal.

Sementara itu, Nur Elifianita yang menjadi pembicara selanjutnya menceritakan tentang buku yang ia tulis. Fani, sapaan akrabnya mengatakan bahwa Tirta Carita  yang menjadi judul buku ini berasal dari Bahasa Sansekerta yang memiliki arti air suci.

Dalam penulisan buku ini, Fani memaparkan tentang fokus-fokus yang menjadi bahasan tulisannya setelah melalui beberapa rangkaian  diskusi di FGD (Focus Group Discussion). Ia juga menemui kendala saat berusaha menemui juru kunci sumber air. Selain itu, cuaca hujan menjadi salah satu halangan dalam proses riset sekaligus pembuatan film.

“Di Songgoriti karena pengelolaan masih konflik maka untuk izinnya itu kita dilempar-lempar oleh instansi terkait. Belum lagi di Selorejo yang medannya juga sulit,” tambahnya.

Secara spesifik, ketertarikan Fani mengambil tema air sebagai bahasan bukunya sendiri karena peranan air yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Ia menyebut bahwa tanpa disadari banyak orang, air yang digunakan sehari-hari berasal dari sumber mata air.

Melalui buku ini,  ia mencoba mengajak pembaca melihat Malang dan sekitarnya seperti  sumber mata air di Songgoriti yang sekarang kondisi debit airnya mulai berkurang karena di eksploitasi. Bahkan dalam riset terakhirnya, Fani menyebut pembangunan pemandian air panas di Songgoriti ternyata mengambil dari sumber mata air Songgoriti secara ilegal. Sementara di Kota Malang, sumber mata air ada di daerah Bandulan, Beji (dekat RRI), dan Bandulan.

Fani juga menjelaskan bahwa sumber mata air di Kota Malang  sudah dalam kategori kritis akibat dari eksploitasi. Eksploitasi ini tidak hanya berdampak pada  sumber mata air tersebut (debut air), tetapi juga hilangnya tradisi masyarakat setempat. Hal ini terjadi di sumber air Polaman  dengan hilangnya pohon besar yang tumbuh dekat mata air berganti dengan masjid. Selain itu tradisi barikan juga dipindahkan ke masjid tersebut.

Denise Resiamini selaku staf ahli Museum Zoologi Museym Frater Vianney yang menjadi pembedah buku ini mengemukakan pendapatnya tentang Tirta Carita.

“Buku ini ilmiah banget. Semua yang disebutkan dengan nama latin, benar semua. Selain itu membaca, buku ini juga membuat saya ketagihan.”

Ia juga memuji buku ini sangat detail menyebutkan lokasi sumber mata air serta memuji epilog buku ini yang mengajarkan agar tidak berkata kasar sewaktu berada di tempat-tempat yang disakralkan (sumber mata air).

Dalam bedah buku tersebut, Fani pun mengajak orang-orang untuk senantiasa menjaga kelestarian sumber mata air yang ada seperti dengan tidak mendirikan bangunan di atas sumber mata air. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *